Minggu, 09 Agustus 2015

Contoh cerpen Kisah Perjuangan



BERJUANG DI UJUNG ASA
Di sebuah desa kecil di pinggiran pulau Kalimantan, tinggal sepasang suami istri dengan keadaan yang bisa dibilang berkekurangan. Namun mereka berdua hidup dalam kebahagiaan dan penuh syukur, mereka tak pernah mengeluh ataupun merasa putus asa dengan kehidupan mereka. Suami istri ini bernama Qahar dan Siti, mereka berdua telah lama menikah namun belum dikaruniai seorang anak pun. Mereka berdua adalah pekerja keras, mereka bersama-sama membangun dan mengembangkan usaha kecil mereka yaitu berjualan keripik keliling.
Setiap hari Siti bangun pagi-pagi buta untuk membuat keripik dan mempersiapkan dagangan yang akan dibawa oleh suaminya berkeliling. Setelah mempersiapkan dagangan mereka, lanjut giliran Qahar yang bekerja menjajakan dagangannya berkeliling desa hingga ke kota. Sebelum berangkat Qahar selalu berpamitan dengan istrinya terlebih dahulu sekaligus meminta doa. “Abang pergi dulu yah dek, doakan dagangan kita hari ini habis”, kata Qahar kepada Siti. “Iya Abang, hati-hati yah”, jawab Siti sambil mencium tangan suaminya. Berangkatlah Qahar berdagang menjajakan keripik buatan istrinya tersebut. Sambil berteriak-teriak “Keripik, keripiiiikk bu keripiik” Qahar tanpa kenal lelah terus berjalan. Di desanya sendiri jarang orang-orang yang membeli keripik dagangan Qahar karena untuk makan saja mereka susah apalagi hanya sekedar membeli makanan cemilan. Karena itulah Qahar selalu lanjut berjalan ke kota agar dagangannya habis.
Di kota, Qahar biasanya berkeliling di pasar dan di beberapa pemukiman ramai. Disinilah biasanya dagangan Qahar bisa habis terjual. Hingga petang Qahar berdagang, setelah dagangannya habis barulah Qahar mau pulang ke rumah. Biasanya Qahar sampai di rumahnya malam hari, dan sudah disambut oleh istrinya di ruang tamu. “Assalamualaikum dek, Abang pulang”, cakap Qahar kepada istrinya. Dengan segera Siti keluar sambil menjawab salam suaminya, “Walaikumsalam Bang”. Begitulah keseharian sepasang suami istri ini selama belasan tahun setelah mereka menikah.
Begitu sabar mereka menjalani hidup yang serba berkekurangan tersebut, mereka juga tak pernah kenal lelah berdoa kepada Tuhan agar diberi rezeki dan keturunan. Hingga akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka, Siti hamil dan melahirkan seorang  anak laki-laki tampan yang mereka harapkan nanti akan menjadi kebanggaan mereka berdua. Anak laki-laki tersebut mereka beri nama Rabas, seminggu setelah melahirkan Rabas, Siti meninggal dunia akibat pendarahan hebat saat melahirkan. Karena pendarahan tersebut membuat tubuh Siti terus melemah hingga dia tak mampu lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya. Qahar begitu bersedih dengan kepergian istrinya tersebut, namun Qahar harus bisa bekerja dan membesarkan bayi kecilnya Rabas seperti permintaan terakhir istrinya.
Tahun berganti tahun Qahar membesarkan bayinya Rabas sendiri. hingga usia Rabas 17 tahun, Qahar berhasil menyekolahkan Rabas hingga kelas 2 SMA dengan uang hasil berdagang keripik. Tak sampai Rabas tamat SMA, Qahar terkena sakit keras dan meninggal dunia menyusul istrinya Siti dan meninggslkan Rabas sendirian tanpa satupun sanak saudara. Rabas begitu bersedih, bingung tak tahu harus berbuat apa. Sosok ayah yang sangat dia sayangi dan orang yang dulu membiayai hidupnya kini telah tiada. Rabas dituntut harus menjadi dewasa dan berpikir untuk kelanjutan hidupnya.
Berdasarkan yang dia ketahui dari orang tuanya tentang cara membuat keripik, Rabas belajar membuat keripik sendiri untuk dijual. Pagi-pagi buta sebelum berangkat ke sekolah Rabas yang kini hidup sendiri, bangun untuk membuat keripik yang akan dia jual. Setelah selesai membuat keripik Rabas bersiap ke sekolah. Dia lalu membawa keripik dagangannya ke sekolah, setelah jam istirahat Rabas mulai mejajakan keripik dagangannya kepada guru-guru dan teman-temannya. Ada yang membeli namun ada juga yang menghinannya. “Hai Rabas, kau ini mau sekolah atau mau dagang keripik? Hahaha”, ejekan salah satu temannya sambil tertawa bersama teman-temannya yang lain. Rabas hanya diam lalu pergi, Rabas sama sekali tak merasa malu dengan apa yang dia lakukan. Rabas tetap berdagang dan berusaha membiayai hidupnya sendiri hingga ia lulus sekolah dan berhasil tamat SMA. Dia yakin bahwa kedua orangtuanya akan bahagia melihatnya telah lulus sekolah meski dari alam yang berbeda.
Rabas tahu dan sadar untuk mencari di zaman sekarang itu tidak mudah apalagi dia hanya tamatan SMA. Dia juga tak mampu untuk membiayai kuliahnya sendiri bila harus kuliah. Akhirnya Rabas memutuskan untuk terus berjualan keripik. Rabas setiap harinya berdagang ke pasar lalu ke kota seperti ayahnya dulu. Hingga sampai pada suatu saat Rabas melakukan sebuah kesalahan kecil tapi berakibat besar. Tak sengaja Rabas menumpahkan minyak tanah ke dekat kompor minyak yang biasa digunakannya untuk menggoreng keripik. Kompor tersebut meledak dan membakar seluruh rumah peninggalan orangtuanya. Rabas segera berlari keluar dan berteriak meminta pertolongan kepada tetangga-tetangga sekitar rumahnya. “Tolong, tolooong, rumah saya kebakaran tolooong”, teriak Rabas. Para warga sekitar yang melihat kejadian tersebut langsung berlarian bergotong-royong memadamkan api yang semakin besar semakin menghanguskan rumah tua satu-satunya harta peninggalan orangtua Rabas tersebut. Hingga saat api berhasil dipadamkan tak ada satupun dari harta benda Rabas yang dapat diselamatkan. Semuanya hangus terbakar bersama rumah tersebut, yang tertinggal hanyalah pakaian yang ia kenakan pada saat itu saja. Rabas stres, bingung harus berbuat apa. Para tetangga yang merasa kasihan kepada Rabas bersama-sama memberi bantuan kepada Rabas. Mereka menyumbangkan beberapa pakaian bekas yang masih layak pakai kepada Rabas. Rabas sangat berterima kasih kepada tetangga-tetangganya yang masih mau membantunya meski hanya dengan bantuan yang seadanya. Karena tidak punya tempat tinggal lagi Rabas memutuskan untuk tinggal di Mushollah desa, Rabas setiap hari membantu membersihkan mushollah tersebut. Tak ada upah yang dia dapatkan, namun dia diizinkan untuk tetap tinggal  di mushollah. Tak jarang pula juga warga memberikan Rabas makanan.
Rabas mulai tenang, kini dia tak lagi stres memikirkan kehidupannya yang dianggapnya begitu sial. Dia berinisiatif untuk melanjutkan hidupnya meski dia sendiri bingung harus memulai dari mana. Keahlian yang dia miliki hanyalah membuat keripik dengan resep keturunan orangtuanya. Namun Rabas tak menyerah, dia berinisiatif untuk membuat keripik lagi. Tapi Rabas membutuhkan modal, tempat dan peralatan untuk berjualan.
Rabas segera menuju pasar untuk mencari kerjaan yang bisa dia lakukan, agar upah yang dia dapatkan dapat ia gunakan untuk modal. Rabas membantu membawakan barang belanjaan Ibu-ibu yang sedang berbelanja di pasar. Ia sadar bahwa upah tersebut sangatlah jauh dari cukup untuk modalnya berdagang, Rabas lalu dengan berat hati meminjam uang kepada beberapa tetangganya dan menyatakan niatnya untuk mulai berjualan lagi, ia juga berjanji akan melunasi hutangnya nanti pada saat usahanya berhasil.
Setelah berkeliling ke beberapa tetangganya Rabas berhasil mengumpulkan uang yang ia rasa cukup untuk memulai kembali usaha keripiknya. Rabas menyewa gubuk kecil di pasar untuk tempatnya berjualan dan juga untuk tempat tinggalnya, Rabas sengaja menyewa tempat seperti itu agar dia mendapatkan harga murah. Sisa uang yang dia pegang lalu ia pakai untuk membeli beberapa peralatan dan bahan-bahan untuk membuat keripik. Keesokan harinya Rabas mulai dengan kegiatan sebelumnya yaitu bangun pagi-pagi buta membuat keripik. Ia lalu menjualnya di pasar, kali ini keripik Rabas sedikit berbeda karena Rabas menambahkan bumbu lebih dari takaran sebelumnya. Orang-orang yang membelinya merasa suka dengan rasa keripik Rabas tersebut. Tak butuh waktu lama jualan Rabas laku dan terjual habis. Rabas merasa sangat senang dan bersyukur karena usahanya berhasil.
Rabas terus berjualan dan sedikit memperbanyak produksi keripiknya, lama-kelamaan keripik buatan Rabas semakin terasa mebosankan. Orang-orang yang telah berlangganan bahkan enggan membeli lagi, Rabas lalu bingung dan harus apa lagi. Berminggu-minggu kejadian tersebut, keripik Rabas tak satupun yang laku. Satu hari Rabas bertemu seorang gadis cantik yang ingin membeli keripiknya, Rabas kaget karena sudah berminggu-minggu sudah tak ada lagi yang membeli keripiknya. Gadis tersebut mengajak Rabas berkenalan dan mulai berbincang-bincang kecil dengan Rabas. “Nama saya Raya, nama abang siapa?” Tanya gadi tersebut. Rabas mejanwab, “Nama saya Rabas”.
Semenjak perkenalan itu Rabas dan Raya semakin akrab, tak disangka Rabas menyimpan rasa terhadap Raya. Rabas yang tak mau membuang waktu kemudian memberanikan diri melamar Raya, padahal dia sedang tidak punya apa-apa juga tak punya pekerjaan. Raya yang hanya anak yatim piatu tersebut akhirnya menerima pinangan Rabas laki-laki yang juga ia cintai. Mereka hidup dalam kemiskinan tapi penuh cinta. Raya mengajak Rabas untuk mulai melanjutkan lagi usaha keripiknya yang tertunda karena berminggu-minggu tidak lagi laku. Raya yang kebetulan penyuka makanan pedas berinisiatif membuat keripik dengan rasa pedas. Mereka lalu membuatnya bersama, dan tak disangka keripiki dengan rasa baru tersebut laku keras. Semakin lama Rabas dan Raya terus meningkatkan produksi, namun belajar dari pengalaman agar orang-orang tidak bosan dengan rasa keripik yang itu-itu saja mereka selalu membuat keripik dengan rasa baru hingga keripik mereka punya tujuh rasa masing-masing yang berbeda.
Mereka tidak lagi berkeliling menjajakan dagangannya tapi hanya menitipkannya ke beberapa warung di pasar dan yang berada di pemukiman warga. Lalu mereka juga member nama merk untuk usaha keripik mereka tersebut. Usaha semakin hari semakin besar dan terus mendatangkan keuntungan, Rabas dan Raya kemudian membeli rumah produksi yang lebih besar dan menggaji beberapa karyawan sehingga mereka tak lagi bekerja membuat keripik sendiri.
Waktu terus berganti, tahun berganti tahun, Rabas dan Raya dikaruniai seorang anak perempuan cantik. Usaha mereka juga semakin berkembang hingga mereka menjadi kaya raya. Produksi keripik pun sekarang menggunganakan pabrik yang cukup besar. Namun Rabas tak lupa dengan warga desa yang pernah membantunya dan memberinya pinjaman modal di awal usahanya. Rabas lalu mengganti uang tetangga-tetangganya tersebut lebih dari yang dia pinjam. Warga desa sangat senang dan berterima kasih kepada Rabas yang ternyata tak lupa dengan mereka meski telah sukses dan kaya raya. Rabas kini hidup berbahagia bersama keluarga kecilnya.