BERJUANG DI UJUNG ASA
Di
sebuah desa kecil di pinggiran pulau Kalimantan, tinggal sepasang suami istri
dengan keadaan yang bisa dibilang berkekurangan. Namun mereka berdua hidup
dalam kebahagiaan dan penuh syukur, mereka tak pernah mengeluh ataupun merasa
putus asa dengan kehidupan mereka. Suami istri ini bernama Qahar dan Siti,
mereka berdua telah lama menikah namun belum dikaruniai seorang anak pun.
Mereka berdua adalah pekerja keras, mereka bersama-sama membangun dan
mengembangkan usaha kecil mereka yaitu berjualan keripik keliling.
Setiap
hari Siti bangun pagi-pagi buta untuk membuat keripik dan mempersiapkan
dagangan yang akan dibawa oleh suaminya berkeliling. Setelah mempersiapkan
dagangan mereka, lanjut giliran Qahar yang bekerja menjajakan dagangannya
berkeliling desa hingga ke kota. Sebelum berangkat Qahar selalu berpamitan
dengan istrinya terlebih dahulu sekaligus meminta doa. “Abang pergi dulu yah
dek, doakan dagangan kita hari ini habis”, kata Qahar kepada Siti. “Iya Abang,
hati-hati yah”, jawab Siti sambil mencium tangan suaminya. Berangkatlah Qahar
berdagang menjajakan keripik buatan istrinya tersebut. Sambil berteriak-teriak
“Keripik, keripiiiikk bu keripiik” Qahar tanpa kenal lelah terus berjalan. Di
desanya sendiri jarang orang-orang yang membeli keripik dagangan Qahar karena
untuk makan saja mereka susah apalagi hanya sekedar membeli makanan cemilan.
Karena itulah Qahar selalu lanjut berjalan ke kota agar dagangannya habis.
Di
kota, Qahar biasanya berkeliling di pasar dan di beberapa pemukiman ramai.
Disinilah biasanya dagangan Qahar bisa habis terjual. Hingga petang Qahar
berdagang, setelah dagangannya habis barulah Qahar mau pulang ke rumah.
Biasanya Qahar sampai di rumahnya malam hari, dan sudah disambut oleh istrinya
di ruang tamu. “Assalamualaikum dek, Abang pulang”, cakap Qahar kepada
istrinya. Dengan segera Siti keluar sambil menjawab salam suaminya,
“Walaikumsalam Bang”. Begitulah keseharian sepasang suami istri ini selama
belasan tahun setelah mereka menikah.
Begitu
sabar mereka menjalani hidup yang serba berkekurangan tersebut, mereka juga tak
pernah kenal lelah berdoa kepada Tuhan agar diberi rezeki dan keturunan. Hingga
akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka, Siti hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki tampan yang mereka harapkan
nanti akan menjadi kebanggaan mereka berdua. Anak laki-laki tersebut mereka
beri nama Rabas, seminggu setelah melahirkan Rabas, Siti meninggal dunia akibat
pendarahan hebat saat melahirkan. Karena pendarahan tersebut membuat tubuh Siti
terus melemah hingga dia tak mampu lagi dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Qahar begitu bersedih dengan kepergian istrinya tersebut, namun Qahar harus
bisa bekerja dan membesarkan bayi kecilnya Rabas seperti permintaan terakhir
istrinya.
Tahun
berganti tahun Qahar membesarkan bayinya Rabas sendiri. hingga usia Rabas 17
tahun, Qahar berhasil menyekolahkan Rabas hingga kelas 2 SMA dengan uang hasil
berdagang keripik. Tak sampai Rabas tamat SMA, Qahar terkena sakit keras dan
meninggal dunia menyusul istrinya Siti dan meninggslkan Rabas sendirian tanpa
satupun sanak saudara. Rabas begitu bersedih, bingung tak tahu harus berbuat
apa. Sosok ayah yang sangat dia sayangi dan orang yang dulu membiayai hidupnya
kini telah tiada. Rabas dituntut harus menjadi dewasa dan berpikir untuk kelanjutan
hidupnya.
Berdasarkan
yang dia ketahui dari orang tuanya tentang cara membuat keripik, Rabas belajar
membuat keripik sendiri untuk dijual. Pagi-pagi buta sebelum berangkat ke
sekolah Rabas yang kini hidup sendiri, bangun untuk membuat keripik yang akan
dia jual. Setelah selesai membuat keripik Rabas bersiap ke sekolah. Dia lalu
membawa keripik dagangannya ke sekolah, setelah jam istirahat Rabas mulai
mejajakan keripik dagangannya kepada guru-guru dan teman-temannya. Ada yang
membeli namun ada juga yang menghinannya. “Hai Rabas, kau ini mau sekolah atau
mau dagang keripik? Hahaha”, ejekan salah satu temannya sambil tertawa bersama
teman-temannya yang lain. Rabas hanya diam lalu pergi, Rabas sama sekali tak
merasa malu dengan apa yang dia lakukan. Rabas tetap berdagang dan berusaha
membiayai hidupnya sendiri hingga ia lulus sekolah dan berhasil tamat SMA. Dia
yakin bahwa kedua orangtuanya akan bahagia melihatnya telah lulus sekolah meski
dari alam yang berbeda.
Rabas
tahu dan sadar untuk mencari di zaman sekarang itu tidak mudah apalagi dia
hanya tamatan SMA. Dia juga tak mampu untuk membiayai kuliahnya sendiri bila
harus kuliah. Akhirnya Rabas memutuskan untuk terus berjualan keripik. Rabas
setiap harinya berdagang ke pasar lalu ke kota seperti ayahnya dulu. Hingga
sampai pada suatu saat Rabas melakukan sebuah kesalahan kecil tapi berakibat
besar. Tak sengaja Rabas menumpahkan minyak tanah ke dekat kompor minyak yang
biasa digunakannya untuk menggoreng keripik. Kompor tersebut meledak dan
membakar seluruh rumah peninggalan orangtuanya. Rabas segera berlari keluar dan
berteriak meminta pertolongan kepada tetangga-tetangga sekitar rumahnya.
“Tolong, tolooong, rumah saya kebakaran tolooong”, teriak Rabas. Para warga
sekitar yang melihat kejadian tersebut langsung berlarian bergotong-royong
memadamkan api yang semakin besar semakin menghanguskan rumah tua satu-satunya
harta peninggalan orangtua Rabas tersebut. Hingga saat api berhasil dipadamkan
tak ada satupun dari harta benda Rabas yang dapat diselamatkan. Semuanya hangus
terbakar bersama rumah tersebut, yang tertinggal hanyalah pakaian yang ia
kenakan pada saat itu saja. Rabas stres, bingung harus berbuat apa. Para
tetangga yang merasa kasihan kepada Rabas bersama-sama memberi bantuan kepada
Rabas. Mereka menyumbangkan beberapa pakaian bekas yang masih layak pakai
kepada Rabas. Rabas sangat berterima kasih kepada tetangga-tetangganya yang
masih mau membantunya meski hanya dengan bantuan yang seadanya. Karena tidak
punya tempat tinggal lagi Rabas memutuskan untuk tinggal di Mushollah desa,
Rabas setiap hari membantu membersihkan mushollah tersebut. Tak ada upah yang
dia dapatkan, namun dia diizinkan untuk tetap tinggal di mushollah. Tak jarang pula juga warga
memberikan Rabas makanan.
Rabas
mulai tenang, kini dia tak lagi stres memikirkan kehidupannya yang dianggapnya
begitu sial. Dia berinisiatif untuk melanjutkan hidupnya meski dia sendiri
bingung harus memulai dari mana. Keahlian yang dia miliki hanyalah membuat
keripik dengan resep keturunan orangtuanya. Namun Rabas tak menyerah, dia
berinisiatif untuk membuat keripik lagi. Tapi Rabas membutuhkan modal, tempat
dan peralatan untuk berjualan.
Rabas
segera menuju pasar untuk mencari kerjaan yang bisa dia lakukan, agar upah yang
dia dapatkan dapat ia gunakan untuk modal. Rabas membantu membawakan barang
belanjaan Ibu-ibu yang sedang berbelanja di pasar. Ia sadar bahwa upah tersebut
sangatlah jauh dari cukup untuk modalnya berdagang, Rabas lalu dengan berat
hati meminjam uang kepada beberapa tetangganya dan menyatakan niatnya untuk
mulai berjualan lagi, ia juga berjanji akan melunasi hutangnya nanti pada saat
usahanya berhasil.
Setelah
berkeliling ke beberapa tetangganya Rabas berhasil mengumpulkan uang yang ia
rasa cukup untuk memulai kembali usaha keripiknya. Rabas menyewa gubuk kecil di
pasar untuk tempatnya berjualan dan juga untuk tempat tinggalnya, Rabas sengaja
menyewa tempat seperti itu agar dia mendapatkan harga murah. Sisa uang yang dia
pegang lalu ia pakai untuk membeli beberapa peralatan dan bahan-bahan untuk membuat
keripik. Keesokan harinya Rabas mulai dengan kegiatan sebelumnya yaitu bangun
pagi-pagi buta membuat keripik. Ia lalu menjualnya di pasar, kali ini keripik
Rabas sedikit berbeda karena Rabas menambahkan bumbu lebih dari takaran sebelumnya.
Orang-orang yang membelinya merasa suka dengan rasa keripik Rabas tersebut. Tak
butuh waktu lama jualan Rabas laku dan terjual habis. Rabas merasa sangat
senang dan bersyukur karena usahanya berhasil.
Rabas
terus berjualan dan sedikit memperbanyak produksi keripiknya, lama-kelamaan
keripik buatan Rabas semakin terasa mebosankan. Orang-orang yang telah
berlangganan bahkan enggan membeli lagi, Rabas lalu bingung dan harus apa lagi.
Berminggu-minggu kejadian tersebut, keripik Rabas tak satupun yang laku. Satu
hari Rabas bertemu seorang gadis cantik yang ingin membeli keripiknya, Rabas
kaget karena sudah berminggu-minggu sudah tak ada lagi yang membeli keripiknya.
Gadis tersebut mengajak Rabas berkenalan dan mulai berbincang-bincang kecil
dengan Rabas. “Nama saya Raya, nama abang siapa?” Tanya gadi tersebut. Rabas
mejanwab, “Nama saya Rabas”.
Semenjak
perkenalan itu Rabas dan Raya semakin akrab, tak disangka Rabas menyimpan rasa
terhadap Raya. Rabas yang tak mau membuang waktu kemudian memberanikan diri melamar
Raya, padahal dia sedang tidak punya apa-apa juga tak punya pekerjaan. Raya
yang hanya anak yatim piatu tersebut akhirnya menerima pinangan Rabas laki-laki
yang juga ia cintai. Mereka hidup dalam kemiskinan tapi penuh cinta. Raya
mengajak Rabas untuk mulai melanjutkan lagi usaha keripiknya yang tertunda
karena berminggu-minggu tidak lagi laku. Raya yang kebetulan penyuka makanan
pedas berinisiatif membuat keripik dengan rasa pedas. Mereka lalu membuatnya
bersama, dan tak disangka keripiki dengan rasa baru tersebut laku keras.
Semakin lama Rabas dan Raya terus meningkatkan produksi, namun belajar dari
pengalaman agar orang-orang tidak bosan dengan rasa keripik yang itu-itu saja
mereka selalu membuat keripik dengan rasa baru hingga keripik mereka punya tujuh
rasa masing-masing yang berbeda.
Mereka
tidak lagi berkeliling menjajakan dagangannya tapi hanya menitipkannya ke
beberapa warung di pasar dan yang berada di pemukiman warga. Lalu mereka juga
member nama merk untuk usaha keripik mereka tersebut. Usaha semakin hari
semakin besar dan terus mendatangkan keuntungan, Rabas dan Raya kemudian
membeli rumah produksi yang lebih besar dan menggaji beberapa karyawan sehingga
mereka tak lagi bekerja membuat keripik sendiri.
Waktu
terus berganti, tahun berganti tahun, Rabas dan Raya dikaruniai seorang anak
perempuan cantik. Usaha mereka juga semakin berkembang hingga mereka menjadi
kaya raya. Produksi keripik pun sekarang menggunganakan pabrik yang cukup
besar. Namun Rabas tak lupa dengan warga desa yang pernah membantunya dan
memberinya pinjaman modal di awal usahanya. Rabas lalu mengganti uang
tetangga-tetangganya tersebut lebih dari yang dia pinjam. Warga desa sangat
senang dan berterima kasih kepada Rabas yang ternyata tak lupa dengan mereka
meski telah sukses dan kaya raya. Rabas kini hidup berbahagia bersama keluarga
kecilnya.